Yogyakarta, 24 Agustus 2014
Setelah serangkaian ospek yang kulalui berakhir, akhirnya hari ini datang juga. Hari pertama dalam perkuliahanku akhirnya datang juga. Aku telah menunggu ini sejak lama, seperti menunggu malam pertama(?) Aku tidak tahu akan ada apa, tapi aku tetap antusias menunggunya.
Jam pertama kuliah hari ini dimulai pukul 7.15. Menurut perkiraanku, aku bisa sampai kampus tepat waktu jika aku berangkat setengah jam sebelum pelajaran dimulai. Setelah kunikmati manis dan hangatnya sruputan teh di pagi hari, kupacu sepeda motor dengan senang hati.
Di atas jalanan Yogyakarta, estimasiku dan realitas diadu. Aku berharap estimasiku benar saat diuji, ternyata aku salah. Wajah lalu lintas pagi yogyakarta, berbeda dari yang kuduga, begitu ramai. Orang Yogyakarta terkenal dengan prinsip "alon-alon asal kelakon"-nya dan itu mungkin masih dipegang ketika di jalanan. Dan aku tak bisa menikmati ini, karena biasanya di daerahku sebelumnya, Tangerang, "alon-alon kena klakson" adalah semboyan pengendara motor di sana. Tak hanya itu, aku semakin tak menikmati lalu lintas Yogyakarta karena membunyikan klakson adalah hal yang tabu disini. Akhirnya, aku hanya menikmati kesedihan di perjalanan pertama kuliahku, sambil sesekali merasa blo'on.
Setelah kunikmati perjalanan menuju kampus, akhirnya aku sampai di tempat yang dijuluki kawah candradimuka ini pukul 7.30 alias telat 15 menit, dan aku masih belum tahu dimana ruang kelasku. Mungkin kawah candradimuka ini akan menjadi sebuah neraka bagiku. Aku harus siap menghadapi kutukan dosen atas prestasi mahasiswa baru yang aku raih hari ini. Aku segera membaca daftar nama dan kelas yang ditempel dibawah tangga, diiringi perasaan berdosa.
"Darimana aja kamu yo" kawanku, Dhani, bertanya.
"Ngggg.... dari Tangerang." aku menjawab, sambil menerawang kenapa Dhani di luar kelas.
"Hah?"
"Enggak haha, becanda, dari bantul lah...."
"Udah masuk looh."
"Oh ya? Iya po?"
"Iya"
Jawaban itu benar benar menampar jiwaku. Sejenak aku menatap langit, aku merasa ada petir yang menyambarku. Terlintas di pikiranku, mungkin dengan begini aku akan jadi pembeda di antara maba-maba (mahasiswa baru) yang lain, dengan begitu aku akan dikenal dosen. Begitulah yang terlintas di pikiran positifku (baca:gila) saat itu. Setidaknya, itu dapat membuatku tetap tenang, karena panik di saat seperti ini tidak ada gunanya.
Aku lalu menggerakkan kakiku menuju ruang keals yang akan menjadi ruang penghakimanku. Aku lalu membuka pintu kelasku dengan perlahan, dan semua orang mengalihkan matanya padaku.
"Yo, kamu darimana saja?" Pertanyaan itu muncul lagi, aku hanya menjawabnya dengan senyuman sembari mengangkat alis mataku.
"Yo, untung kamu masih selamat." Pernyataan ini sungguh membingungkanku. Sambutan demi sambutan datang kepadaku seolah aku baru saja selamat dari tragedi MH370.
"Ada apa bro? Dosennya mana." Aku bertanya dengan wajah tak berdosa.
"Gak ada yo, belum datang dari tadi. Kita juga belum presensi." Aku menghela nafas lega. Aku merasakan kelegaan yang luar biasa, rasanya seperti selamat dari air terjun niagara.
Dari kisah perjalanan kuliah hari pertamaku, aku memetik beberapa pelajaran. Sebagai mahasiswa yang baik, kita harus datang sebelum pelajaran dimulai. Jika kamu datang terlambat dan tidak ada dosen, maka jangan masuk kuliah karena akan sia-sia. Dan jika kamu datang terlambat dan dosen sudah di dalam kelas, maka jangan masuk kuliah karena akan sia-sia juga, karena kamu akan diusir. Sesungguhnya diusir itu lebih hina daripada bolos kuliah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar