Wahai Gadis bermata biru
Kapan terakhir kali kita bertemu?
Mungkin satu atau dua tahun lalu
Persetan dengan itu, aku merindukanmu
Aku tak peduli lagi berapa kali bumi mengelilingi matahari
Aku akan tetap berdiri, menanti
Setidaknya sampai habis tinta ini
Menulis tentang khayalan dan rindu
Lihatlah pohon jati yang hampir mati itu
Ia termakan usia, telah renta
Seperti mawar merah di taman itu
Ia hampir layu, kekeringan, dan termakan waktu
Tetapi tahukah engkau, wahai yang kurindukan?
Semua yang hidup pasti akan mati
Entah ia melalui masa tua atau tidak
Begitupun khayalan tentang kita berdua menua bersama
Mungkin akan mati tak lama lagi
Tak perlu menunggu khayalan itu menua
Kakiku mulai lelah berdiri, menanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar