2 Agustus 2015
Minggu pagi,
Aku dan kawan-kawan SATCOM ku berkumpul di kampus STAN. Perlu kalian ketahui,
SATCOM adalah STAN Airsoft gun Tactical Combat Community, komunitas yang keren,
tapi kurang beken. Rata-rata anggotanya adalah laki-laki pacarannya sama
unitnya (re: senjata), sesuai mottonya, “my riffle, my life, my wife”.
Setelah bermain dengan unit kami - tepatnya berfoto-foto -, kami pulang ke rumah masing-masing. Aku berjalan bertiga bersama Bang Bima, dan Raka.
“Hai yoy! Abis dari mana?” Seorang teman kelas wanita ku, bertanya.
“Abis main, biasa lah... kamu mau tentir ya?” Aku menjawab.
“Enggak kok, aku mau ke sana, duluan ya..” Ia menjawab lalu pergi.
“Siapa tuh yo? Pepet atuh yo, mumpung masih kuliah, masih gampang nyarinya....” ucap Bang Bima Setengah meledek.
“Temen sekelas bang.” Aku menjawab santai, sambil menahan ucapan “dia udah ada yang punya”. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya di kantin, aku dan Bang Bima berhenti dan memutuskan untuk duduk dan membeli minum –sebenarnya Bang Bima yang beli, aku tidak beli, hanya dibelikan-, sedangkan Raka memutuskan untuk langsung pulang.
“Yo, masa-masa kuliah nih paling enak buat nyari pacar. Kalo udah kerja nanti susah.” Bang Bima melanjutkan percakapan tadi. Bang Bima ini adalah lulusan D I Bea Cukai dan sudah bekerja beberapa tahun dan kini melanjutkan kuliah di D III Akuntansi Khusus.
“Masa sih bang? Bukannya malah gampang ya bang? Kan kalo udah kerja, cewek mah datang sendiri, ga usah dicari. Emang Abang umurnya berapa sekarang, Bang?” Aku pun bertanya, walaupun kutahu, ini pertanyaan yang aneh, tapi kupikir ia sudah biasa menghadapinya.
“Sekarang sih 25 tahun. Teori itu emang bener, tapi ada faktor lain. Dalam perjalanan hidup, kita akan menjalanin tiga masa.”
“Tiga masa? Maksud Abang?”
“Jadi ada tiga masa. Masa pertama adalah siapa aku, yaitu ketika kita mau pacaran kita akan berpikir siapa diri kita, masa ini dialami ketika aku masih SMA, aku masih berpikir aku kan masih dibayari orang tuaku, masih fokus untuk ga ngecewain mereka dan mikir-mikir karena masih ngeluarin uang orang tua, mungkin yang pacaran ya karena orang tuanya kaya, atau emang ga mikir ke sana. Masa yang kedua adalah siapa dia, masa ini terjadi ketika orang-orang sudah bekerja. Mereka akan melihat siapa yang diinginkan, cantiknya, pekerjaannya, tingginya, dan kriteria lainnya. Karena ketika kita sudah bekerja dan berpenghasilan, selera kita cenderung makin tinggi....” Ia berhenti sejenak, meneguk minumannya.
“Wah iya bener juga ya bang, ketika SMA aku juga gitu bang, yang penting lulus aja dulu deh, pacaran mah nanti pas udah ada penghasilan aja. Masa ketiga gimana bang?”
“Masa ketiga ini, adalah masa yang jangan sampai terjadi lah pokoknya.”
“Kenapa kalau sampai terjadi, bang?”
“Gak bagus deh, ini adalah masa Siapa aja. Masa ini terjadi ketika kita berumur 30 tahun atau ke atas. Karena tuntutan usia dan lingkungan yang nanyain ‘kapan nikah?’ kondisi ini terjadi. Yang sudah masuk pada masa ini, seleranya cenderung turun dan sudah tidak memikirkan kriteria tinggi lagi, yang penting nikah, sudah menjalankan ibadah.”
“Wah iya bener banget nih Bang, duh jangan sampai deh, alih-alih bahagia malah bisa menderita kalau ga cocok. Idealnya usia berapa untuk menikah menurut Abang? Bukannya temen sekelas Abang udah banyak yang nikah ya?” Aku bertanya hal aneh lagi, mungkin sangat menyerang, tapi aku kan harus tahu, karena aku sebentar lagi kehilangan masa kuliahku.
“Ya kalau udah punya penghasilan dan sudah yakin mau nikah ya nikah saja. Kalau usia berapapun ga punya penghasilan mau kasih makan apa anak orang? Makan cinta? Mana bisa hidup? Ya kan hahaha... Iya, ada yang usia 23 udah nikah, cepet banget dah, disitu kadang saya mikir kok dulu saya ga nyari dari temen kampus aja ya haha..” ia tertawa ringan.
“Abang kan sudah punya penghasilan yang lumayan, masa ga ada yang nyari sih, temen SMA gitu?” kali ini aku berusaha mengangkat dirinya, tapi ini juga bisa menyerang juga.
“Enggak yo, mungkin mereka udah pada lupa. Udah lost contact semua juga..”
“Iya ya bang, temenku juga udah pada berubah, kayak ga ada contact lagi. Ya Cuma nge-share event kampusnya aja kalo di grup angkatan, ngobrol personal sesekali. Oh iya ngomong, ngomong abang kan udah 25 nih, udah kerja pula, ga ditanyain orang tua kapan abang nikah?”
“Kalo orang tuaku sih santai aja, ‘masih muda, main aja dulu’. Jadi ya aku nyantai. Kalau udah nikah mungkin aku pikir-pikir untuk main ke Jepang dulu. Selagi muda, jalan-jalan yang jauh lah, kalau hanya malaysia dan singapura mah ga menarik. Aku punya tiga tujuan luar negeri yang ingin aku kunjungi. Pertama adalah Jepang dan sudah kesampaian, selanjutnya Paris, yang terakhir ke The Great Wall China deh, doain aja ya kesampaian. Kalo kamu mau, yang rajin nabungnya ya.”
“Amiin bang, mudah-mudahan aku juga bisa nabung bang. Oh iya, ga terasa udah jam setengah dua belas, pulang dulu ya bang. Makasih ya bang.”
“oke, sama-sama.”
Aku mengangkat kakiku meninggalkan kantin. Siang itu kantin lumayan ramai dipenuhi orang-orang yang sedang belajar, maklum besok UAS.
Sesampainya di kosan, aku masih teringat tentang percakapan tadi, tentang masa yang terakhir. Aku khawatir masa ketiga ku akan lebih cepat dari yang lainnya. Bisa saja kan saat aku sudah bekerja, usia belum 25 tahun, ibuku bertanya “Kapan nak kamu mau nikah?”. Lalu karena itu aku menikahi orang yang sebenarnya tidak aku cintai.
Aku saja masih membisu ketika ditanya “yo, kamu udah pacaran belum sih? Kok gak ada yang nelpon ke rumah? temen kantor ibu yang punya anak laki-laki sering cerita kalo telpon rumahnya sering bunyi ditelpon oleh perempuan? Apa anak ibu gak laku?”
Tidak apa jika saat ini orang-orang berpikir aku tidak laku atau apalah. Aku memang (sedang) tidak ingin pacaran. Aku masih berkeyakinan, suatu saat nanti aku akan menemukan orang yang ku ikat dengan cinta untuk yang pertama dan yang terakhir.
To be Continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar