Desember 2012, aku dan keluargaku berniat membeli kacamata baru, karena yang lama mungkin sudah tidak nyaman. Supaya dapat potongan harga lensa kacamata, kami menggunakan kartu askes. Potongan harga dari askes adalah dua ratus ribu rupiah, nominal yang cukup tinggi. Untuk mendapatkan fasilitas askes, kami harus buat rujukan ke puskesmas daerah kami. Setelah rujukan ke puskesmas, kami harus ke RSU daerah kami dan melakukan pemeriksaan. Setelah pemeriksaan, kami akan dapat sebuah lembaran yang menjamin potongan harga dari askes.
Pada tanggal 27 Desember, kami mengajulan rujukan ke puskesmas bojong nangka. Setelah menerima kartu rujukan, kami pulang.
Pada tanggal 29 desember 2012, kami bangun pagi berniat untuk tidak terlambat. Setelah melakukan perjalanan menggunakan mobil, kami sampai di RSU Kabupaten Tangerang. Sesampainya disana, kami kesulitan mencari parkir karena saat itu rumah sakit sedang ramai pengunjung dan badan jalan menuju lahan parkir tertutup oleh banyak sepeda motor yang parkir.
Setelah parkir, kami menuju akses center di RSU tersebut, setelah pendaftaran di akses selesai, kami ke ruang dokter mata. Setelah menunggu, mata kami diperiksa oleh perawat disana, lalu kami harus menunggu dokter.
Saat menunggu dokter, tepatnya pukul 10 pagi, saya bertemu kakak kelas saya, fatih. Ia sudah datang lebih pagi dari saya. Dengan tujuan yang sama dengan saya, ia ingin mengganti lensa kacamata, karena minusnya bertambah. Jam tanganku sudah menunjukkan angka pukul 11.30, berarti aku telah disana selama dua setengah jam dari pukul 9. Kak fatih pun pulang karena lapar, karena paginya belum sarapan.
Jarum jam menunjukkan pukul satu, dokter belum datang juga. Salah seorang pasien menelpon dokter.
"dimana dok?"
"masih dirumah."
(WTF! Masih dirumah? Anak sd aja udah pulang~).
Setelah ditelpon, dokter itu berangkat. Dalam perjalanan, dokter terjebak macet (katanya), jadi ia sampai rumah sakit jam 1.30. Setelah sampai, para pasien menyindir dokter.
"selamat pagi dok... Masih pagi ya?"
" selamat pagi" kepala dokter tertunduk.
"masih untung gue dateng" dokter berbisik.
Aku tak sengaja mendengar perkataan dokter itu. Aku juga tak menyangka ia masih bisa berkata seperti itu.
Setelah dokter datang, antrian pasien dimulai. Tiba giliran saya, saya duduk dekat dokter. Ia lalu memberi resep, tulisan, tandatangan, lalu bicara sebentar dengan saya. Lalu giliran saya selesai, itu tak sampai lima menit. Begitupula dengan pasien yang lain. Pengalaman luar biasa di RSU milik pemerintah, saya menunggu hampir lima jam hanya untuk pembicaraan yang tak sampai 5 menit. Saya pun bersyukur karena keluhan saya hanya di mata, bukan di jantung. Kalau saya sakit jantung dan dokternya seperti itu, saya pasti tidak bisa menulis artikel ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar